GURU PENSIUN SUDAH PASTI, PENSIUNAN GURU SEJAHTERA ADALAH PILIHAN.
Oleh :Lily Mulyadi
Sepenggal cerita anatara guru dan bekas muridnya dapat disimak di bawah ini:
“Badhe tindak pundi Mas?” (Mau kemana Mas) Tanya seorang tukang ojek.
“Condong Catur, Pak. Pinten ongkosipun.” (Ke Condong Catur, berapa ongkosnya) Tanyaku.
“Lha nggih manut mawon….Mase badhe maringi pinten.” (Turut - ikut saja , Mas mau memberi ongkos berapa) Jawab tukang ojek itu. Mendengar jawaban tukang ojek, aku cuma bisa garuk-garuk kepala. Siang itu, pergilah aku ke Condong Catur, ngojek. Diperjalanan, bapak tukang ojek ini termasuk penyabar. Tak pernah ngebut, apalagi berinisiatif mendahului kendaraan yang lain. No way. “Medhak pundi Mas.” (Turun dimana, Mas) Tukang ojek menanyaiku. “Oh…mriki mawon Pak.” (Disini saja, Pak) Jawabku. Uang selembar puluhan ribu kuberikan kepadanya. “Wah, cekap gangsal ewu kemawon.” (Cukup lima ribu saja) Bapak itu mau mengembalikan uang lima ribuan seraya membuka helmnya. Aku agak terperanjat, sepertinya aku mengenal Bapak ini. “Nyuwun pangapunten, Pak. Punapa Bapak punika pak Is, guru kula rikala SMP.” (Mohon maaf, apakah Anda pak Is, guru saya sewaktu SMP) Tanyaku. “Lho, panjenengan punika sinten nggih, kula kog supen”. (Anda siapa, saya kog lupa). “Kula riyin murid Bapak. Kula Marsudi, Florensius Marsudi.” (Saya bekas murid Bapak. Saya Marsudi, Florensius Marsudi) “Oalah Mas…Mas. Lha kog brengose nepleng…” (yang ini tak usah diterjemahkan….ha…ha) Tiba-tiba pak Is (tukang ojek itu) memelukku. Kurang lebih 25 tahun, aku tak pernah berjumpa dengan pak Is. Di warung pinggir jalan itu, pak Is kuajak duduk. Kami ditemani dua botol the dingin. Camilan ala kadarnya. Beliau masih ingat ketika memlintir telingaku sampai merah menyala (ngaku ne….nakal). Dua hari sakitnya belum hilang. Ampun nian. Pak Is (mantan guruku) bercerita tentang suka dukanya menjadi guru, apalagi sekarang sudah pensiun. Untuk menyambung hidup ia ngojek, sementara satu anaknya masih kuliah. Anaknya yang kuliah juga membuka usaha tambal ban di pinggir jalan.
“Mas Marsudi, dados tukang ojek punika hasilipun alit. Ingkang penting halal.” (Menjadi pengojek berpenghasilan kecil, yang penting halal). Kata pak Is menutup perjumpaan kami.
“Condong Catur, Pak. Pinten ongkosipun.” (Ke Condong Catur, berapa ongkosnya) Tanyaku.
“Lha nggih manut mawon….Mase badhe maringi pinten.” (Turut - ikut saja , Mas mau memberi ongkos berapa) Jawab tukang ojek itu. Mendengar jawaban tukang ojek, aku cuma bisa garuk-garuk kepala. Siang itu, pergilah aku ke Condong Catur, ngojek. Diperjalanan, bapak tukang ojek ini termasuk penyabar. Tak pernah ngebut, apalagi berinisiatif mendahului kendaraan yang lain. No way. “Medhak pundi Mas.” (Turun dimana, Mas) Tukang ojek menanyaiku. “Oh…mriki mawon Pak.” (Disini saja, Pak) Jawabku. Uang selembar puluhan ribu kuberikan kepadanya. “Wah, cekap gangsal ewu kemawon.” (Cukup lima ribu saja) Bapak itu mau mengembalikan uang lima ribuan seraya membuka helmnya. Aku agak terperanjat, sepertinya aku mengenal Bapak ini. “Nyuwun pangapunten, Pak. Punapa Bapak punika pak Is, guru kula rikala SMP.” (Mohon maaf, apakah Anda pak Is, guru saya sewaktu SMP) Tanyaku. “Lho, panjenengan punika sinten nggih, kula kog supen”. (Anda siapa, saya kog lupa). “Kula riyin murid Bapak. Kula Marsudi, Florensius Marsudi.” (Saya bekas murid Bapak. Saya Marsudi, Florensius Marsudi) “Oalah Mas…Mas. Lha kog brengose nepleng…” (yang ini tak usah diterjemahkan….ha…ha) Tiba-tiba pak Is (tukang ojek itu) memelukku. Kurang lebih 25 tahun, aku tak pernah berjumpa dengan pak Is. Di warung pinggir jalan itu, pak Is kuajak duduk. Kami ditemani dua botol the dingin. Camilan ala kadarnya. Beliau masih ingat ketika memlintir telingaku sampai merah menyala (ngaku ne….nakal). Dua hari sakitnya belum hilang. Ampun nian. Pak Is (mantan guruku) bercerita tentang suka dukanya menjadi guru, apalagi sekarang sudah pensiun. Untuk menyambung hidup ia ngojek, sementara satu anaknya masih kuliah. Anaknya yang kuliah juga membuka usaha tambal ban di pinggir jalan.
“Mas Marsudi, dados tukang ojek punika hasilipun alit. Ingkang penting halal.” (Menjadi pengojek berpenghasilan kecil, yang penting halal). Kata pak Is menutup perjumpaan kami.
Penggalan cerita di atas mencerita pertemuan seorang pensiunan guru SMP yang berfropesi sebagai tukang ojeg dengan bekas muridnya. Memang profesi sebagai tukang ojeg bukan pekerjaan yang hina. Namun di usia yang ujur rasanya kurang pas jika pensiunan guru menjadi tukang ojeg karena tidak sesuai dengan kemampuan .
Mungkin sudak saatnya memulai mengubah pola pikir “ya…nanti saja kalau sudah pensin berbisnisnnya”. Pemikiran itu tidak sepenuhnya salah, namun akan lebih bail jika memulai merintis bisnis dari sekarang. Merintis bisnis jauh sebelum masa pension datang akan lebih baik daripada setelah masa pension.
Perlu di sadari sedini mungkin Alur Hidup Pekerjaan Kita selama ini hanya berjalan ditempat: contohnya kita bekerja sebagai karyawan di sebuah instansi/ perusahaan dimulai pada usia 25 tahun dan pensiun pada usia 55 atau 60 tahun dengan masa kerja 30 tahun, lalu menghadapi masa pensiun dengan kepastian ekonomi yang tidak jelas (nilai mata uang rupiah yang terus menurun dan harga kebutuhan pokok yang terus naik karena inflasi, sementara uang pensiun tetap segitu) dan bersabar menunggu dana pensiun setiap bulan dengan nilai yang tidak banyak bertambah. Untuk sekedar menyadarkan dari keterlenaan sebagai pekerja ,mungkin pertanyaan dibawah bisa membantu untuk berjaga-jaga
- Pernahkah terbayang apa yang akan terjadi dengan Anda di usia 55 atau 60?
- Pernahkah berpikir seperti apa Anda saat pensiun kelak?
- Dimanakah posisi Anda saat Anda sudah pensiun?
- Pensiun mungkin kata yang tidak asing bagi kita sebagai karyawan, namun apakah Anda siap bila masa itu datang?
Faktanya
- Data menunjukkan 65% pensiunan di Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
- 60% dari para pensiunan hanya mengandalkan Jamsostek sebagai pengaman mereka saat pensiun.
- Lebih parah lagi hanya 21% yang tahu berapa besar uang pensiun yang harus dibutuhkan saat mereka pensiun kelak.
Menyadari masa pensiun tiba dan berkurangnya pendapatan , membuat para pensiunan berpikir untuk memulai bisnis. Dikarenakan pada masa itu menurunlah penghasilan, namun kebutuhan finansial yang masih cukup tinggi. Tapi apakah mungkin seorang pensiunan baru mulai bisnis, sedang kondisi fisik dan kesehatannya sudah menurun?. Tidak dapat dipungkiri banyak pula pensiun yang mengaku masih merasa mampu dan berpotensi untuk terus berkarya dan berpenghasilan.Untuk menepis segala keraguan, berikut beberapa strategi yang perlu dicermati untuk memulai berbisnis di masa pensiun :
1. Mulai bisnis, jauh sebelum masa pensiun itu tiba.
Bisnis harus dirintis jauh sebelum pensiun, pertimbangannya adalah untuk mengubah cara berpikir dari karyawan menjadi seorang pebisnis. Ada dua kemungkinan dalam membangun bisnis, bisa sukses dan juga bisa gagal. Butuh proses yang panjang dan banyak pembelajaran juga pengalaman untuk mencapai keberhasilan. Perlulah di maklumi dalam berbisnis antara untung dan rugi jaraknya tipis aekali seperti kulit ari. Agar nantinya para pensiun, tidak menggantungkan penghasilan sepenuhnya pada bisnis yang baru dibangun.
2. Manfaatkan potensi diri dan gunakan modal minimal.
Kembangkanlah potensi dalam diri Anda, hubungkan dengan hobby yang bisa dilakukan sehari-hari. Secara psikologis sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa, menambah semangat hidup, selain itu bila berkembang menjadi bisnis yang sukses dan dapat membuka lapangan pekerjaan, akan memberi kepuasan tersendiri bagi hidup Anda. Mulailah bisnis dengan modal minimal, jangan dulu mengharap keuntungan berlimpah pada awal usaha. Ubah gaya hidup yang konsumtif, menjadi lebih termanage.
3. Bekerja sesuai kemampuan.
3. Bekerja sesuai kemampuan.
Memulai bisnis di usia pensiun, bukanlah patokan untuk menjadi milyader atau jutawan. Namun, yang terpenting adalah dapat memanfaatkan dengan baik potensi dalam diri. Jadi, jagalah kesehatan, emosional dan jangan bekerja dan berpikir terlalu berat, karena akan mempengaruhi kesehatan yang telah cenderung menurun di usia pensiun. Pilihlah bisnis yang tepat, karena sangat menentukan jalan hidup Anda. Pilihlah bisnis yang sesuai dengan pengalaman dan skill Anda, nikmatilah bisnis Anda, sehingga Anda dapat berbisnis dengan nyaman dan santai. Tidak merasa terbebani.
4. Manfaatkan jaringan.
4. Manfaatkan jaringan.
Semakin banyak media yang digunakan untuk pemasaran, semakin besar peluang untuk mengenalkan bisnis Anda ke banyak orang. Tujuannya selain untuk pengenalan bisnis juga membangun brand image, sehingga orang mempunyai keinginan untuk membelinya. Misalnya pemasaran yang dimulai dari mulut ke mulut, Anda dapat memberitahu keluarga, tetangga, sahabat, manfaatkan rekan-rekan lama atau relasi Anda dahulu. Upayakan untuk mengkoleksi alamat dan nomor handphone mereka dan rangkum menjadi satu database. Layani customer Anda dengan baik, tanggapi keluhan mereka. Dengan demikian customer merasa dihargai. Upaya tersebut akan memberikan dampak pada kehidupan Anda. Anda merasa dibutuhkan, merasa tidak kehilangan pekerjaan dan merasa bermanfaat bagi orang banyak.
4. Perekrutan karyawan.
4. Perekrutan karyawan.
Merekrut karyawan sebaiknya dilakukan bila bisnis Anda mulai berkembang, semakin bertambahnya customer dan banyaknya permintaan produk. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan dan tenaga para pensiun yang mulai menurun. Resiko merekrut karyawan adalah kita harus memberikan upah dan kesejahteraan lainnya. Untuk system pemberian upahnya sebaiknya, tidak diberikan upah bulanan, namun disesuaikan oleh target produk yang dapat dihasilkan.
Bagi pensiunan yang latar belakangnya dari pedesaan sepertinya tidak akan mengalami kesulitan .Mereka bisa memilih bisnis penggemukan kambing, sapi atau kerbau sebagai alternatif. Karena bisnis tersebut tidak peranh sepi apalagi sekarang tersedia pakan-pakan ternak yang dijual ditoko-toko. Untuk informasi-informasi tentang bisnis kambing sapi, atau kerbau , kita bisa memmfaatkan kecanggihan teknologi seperti media masa dan internet. Kita pun bisa memamfaatkan sumber daya manusia yang ada dilingkungan tempat tinggal kita yang lebih mengerti dan memahami beternak kambing.
Masih banyak ide-ide bisnis pensiunan lainnya yang bisa membuka wawasan berkaitan dengan bisnis masa pensiun. Perintisan bisnis jauh sebelum masa pensiun datang akan membawa kita sebagai. Pensiunan yang sukses sudah barang tentu akan lebih sejahtera lahir dan batin.(LM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar